Selasa, 19 Juni 2012

LINGUISTIC ANALYSIS


ANALISIS STRUKTUR FRASA NOMINA DALAM NOVEL LASKAR PELANGI DAN PENERJEMAHAN BAHASA INGGRISNYA THE RAINBOW TROOPS
Sebuah Kajian Linguistik
Oleh: Winda Ratna Wulandari

Abstract 
Noun phrase is a group of words headed by a noun. In the case of translating a noun phrase from Bahasa Indonesia into English, a translator often finds some difficulties in deciding the structure of noun phrase in the target language because of the different structure of both Bahasa Indonesia and English. This paper is intended to describe the translation of noun phrases from Bahasa Indonesia into English as seen in Andrea Hirata’s Laskar Pelangi and its English version. The method used in this research is the method of translational equality because this analysis concerns two different languages. The result of the study shows that in the translation process of noun phrases from Bahasa Indonesia into English, shifting occurs to gain the equivalent between Bahasa Indonesia and English. It happens because of the different syntactic structure of both Bahasa Indonesia and English.
Abstrak
Frasa nomina adalah sekelompok frasa yang dikepalai oleh sebuah nomina. Pada kasus penerjemahan frasa nomina dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa inggris, penerjemah biasanya mengalami sedikit kesulitan di dalam menentukan struktur frasa nomina dalam bahasa sasaran dikarenakan perbedaan struktur di antara kedua bahasa tersebut. Paper ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerjemahan frasa nomina dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa inggris seperti terlihat pada novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata dan versi bahasa Inggrisnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode padan translasional karena analisisnya difokuskan pada dua bahasa yang berbeda. Hasil studi menunjukkan bahwa pada proses penerjemahan frasa nomina dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa inggris banyak mengalami proses pergeseran untuk mendapatkan kesepadanan struktur antara bahasa sumber dan bahasa sasaran. Hal ini terjadi dikarenakan perbedaan struktur sintaksis antara bahasa Indonesia dan bahasa inggris.
Kata kunci: frasa nomina; penerjemahan; struktur sintaksis
A.PENDAHULUAN
Setiap bahasa di dunia memiliki pola struktur sintaksis yang berbeda-beda. Ketika satu bahasa di kaji unsur-unsur penyusunnya, maka kajiannya akan menjadi kajian linguistik sinkronis maupun diakronis. Akan tetapi, kajian linguistik mungin akan menjadi lebih menarik jika dikaji melalui dua medium bahasa yang berbeda karena dapat dipastikan unsur-unsur linguistik di dalamnya, terutama unsur-unsur sintaksisnya kemungkinan besar akan berbeda. Pengkajian linguistik melalui dua media bahasa yang berbeda dapat dihasilkan melalui proses yang disebut sebagai penerjemahan.
Penerjemahan suatu bahasa kedalam bahasa lain merupakan proses yang cukup rumit. Penerjemah harus bisa menyampaikan pesan yang ada dalam bahasa sumber kedalam bahasa sasaran dengan baik dan benar agar pesan yang dimaksudkan dalam bahasa sumber menjadi sama jelasnya di dalam bahasa sasaran. Di dalam paper ini, penulis memfokuskan diri untuk mengkaji penerjemahan dari bahasa Indonesia kedalam bahasa Inggris. Objek kajian yang penulis temukan adalah novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris The Rainbow Troops oleh Angie Kilbane.
Permasalahan yang cukup rumit dalam hal proses penerjemahan adalah penerjemahan frasa nomina. Baik bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris mempunyai pola struktur sintaksis yang berbeda. Perhatikan contoh di bawah ini
            BSU: Sebatang pohon filicium tua yang rindang.
            BSA: The branch of an old filicium tree.
Dari contoh tersebut di atas dapat diketahui bahwa di dalam bahasa sasaran, frasa nomina tersebut mendapatkan tambahan artikel the dan a. Selain itu, kata rindang yang ada dalam bahasa sumber tidak ikut diterjemahkan kedalam bahasa sasaran. Perbedaan struktur sintaksis inilah yang bisa dikaji secara linguistik.
Seorang penerjemah yang baik diharapkan bisa menemukan padanan yang sesuai baik padanan kata maupun gramatikal di dalam bahasa sasaran. Baker (2000: 8) menyatakan bahwa seorang penerjemah diharapkan memahami struktur sintaksis dari bahasa sumber dan bahasa sasaran secara total meliputi perbedan gramatikal, makna leksikal, dan semua sistem yang ada di kedua bahasa tersebut sehingga tercapailah kesamaan tekstual dan pragmatik.
Dari uraian tersebut di atas cukup jelas bahwa frasa nomina dalam bahasa sumber kemungkinan akan mempunyai struktur sintaksis yang berbeda dalam bahasa sasaran. Mencari kesepadanan dalam bahasa sumber dan bahasa sasaran merupakan hal yang penting dalam proses penerjemahan. Oleh karena itu, paper ini mencoba menguraikan kesepadanan penerjemahan antara frasa nomina dalam bahasa Indonesia seperti yang terlihat di dalam novel Laskar Pelangi dan terjemahannya The Rainbow Troops melalui unsur-unsur sintaksis penyusun frasa nomina dalam Bahasa Indonesia dan terjemahannnya di dalam Bahasa Inggris tersebut.
Berdasarkan uraian yang telah disebutkan di atas, maka permasalahan yang timbul adalah (1)Bagaimana frasa nomina di dalam novel Laskar Pelangi diterjemahkan, dan (2) Bagaimana penerjemahan frasa nomina dalam Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Inggris mencapai kesepadanan penerjemahan. Karena penelitian ini berkaitan dengan dua bahasa yang memiliki aksara berbeda, maka metode yang tepat digunakan dalam penelitian ini adalah metode padan translasional, yakni metode padan yang alat penentunya adalah bahasa lain (Edi Subroto, 1992: 59). Data akan dianalisis dengan menggunakan teori linguistik tradisional mengenai struktur sintaksis frasa nomina dan untuk mengetahui kesepadanan struktur penerjemahan dalam Bahasa Inggrisnya, teori penerjemahan tentang pergeseran (shifting) yang diusung oleh Catford juga digunakan untuk melihat pergeseran apa yang timbul dalam proses penerjemahan frasa nomina-frasa nomina tersebut.
B.LANDASAN TEORI
Paper ini mengkaji tentang struktur sintaksis dari frasa nomina dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Oleh karena itu teori linguistik yang digunakan adalah teori linguistik tradisional. Teori linguistik tradisional sendiri adalah teori yang menjelaskan tentang aturan gramatikal yang dipakai kurang lebih selama dua ratus tahun yang lalu. Tata bahasa tradisional merupakan penggolongan kata ke dalam kelas kata. Salah satu tokoh yang terkenal mengembangkan teori linguistik tradisional adalah Robert Lowth’s (1726) dalam bukunya A Short Introduction to English Grammar.
Paper ini lebih lanjut akan membahas mengenai struktur frasa nomina dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris menggunakan teori sintaksis dari linguistik tradisional. Teori sintaksis dibuat untuk membedakan level analisis pada kalimat, klausa, dan frasa. Sintaksis juga mengkaji tentang terminologi tradisional dalam struktur sintaksis seperti subjek, objek, and kelas kata. Teori sintaksis yang dipakai dalam paper ini adalah teori tentang frasa nomina dari Marjilijn and Kim Sauter dalam bukunya yang berjudul English Sentence Analysis.
Selain  menggunakan teori sintaksis, paper ini juga mengkaji frasa nomina dalam Bahasa Indonesia dan terjemahan Bahasa Inggrisnya dengan menggunakan teori equivalence. Karena paper ini mengkaji proses penerjemahan dari suatu frasa nomina kedalam struktur terjemahan Bahasa Inggrisnya, maka sangatlah penting untuk mengetahui kesepadanan struktur sintaksis pada frasa nomina dalam Bahasa Indonesia dan terjemahan Bahasa Inggrisnya. Mengkaji struktur sintaksis untuk mencari kesepadanan penerjemahan sangat memungkinkan adanya proses pergeseran dari bahasa sumber kedalam bahasa sasaran. Oleh karena itu, dalam paper ini penulis juga akan mencoba untuk mengkaji pergeseran-pergeseran apa yang terjadi selama proses penerjemahan dengan menggunakan teori dari Catford.



1.     FRASA NOMINA
1.1. FRASA
Sebuah frasa merupakan sekumpulan kata-kata yang tidak memiliki subjek yang artinya bahwa setiap sekumpulan kata yang secara gramatikal sama dan tidak memiliki subjeknya sendiri disebut sebagai frasa. Salah satu frasa adalah frasa nomina. Contohnya adalah frasa seorang anak muda. Frasa ini adalah frasa nomina karena dikepalai oleh sebuah kata benda.
1.2. Frasa Nomina
Frasa nomina bisa berfungsi sebagai subjek dalamsebuah kalimat , misalnya dalam kalimat seorang anak membaca sebuah buku, sebagai objek seorang anak membaca sebuah buku, sebagai pelengkap objek kata kerja John membeli sepotong kue, dan sebagai objek preposisi Jill sedang berenang di kolam renang.
2.     Equivalence (Kesepadanan)
Vinay dan Darbelnet (dikutip dari Munday, 2001: 58) menyatakan bahwa equivalence merujuk pada kasus dimana bahasa mendeskripsikan situasi yang sama dengan perbedaan style atau perbedaan struktural. Catford (dikutip dari Hatim dan Munday, 2004: 40) manyatakan bahwa menuliskan suatu teks kedalam bahasa lain bisa sama melalui beberapa element yang berbeda (seluruhnya atau hanya sebagian sama), dalam tataran level yang berbeda (persamaan konteks, semantic, gramatikal, leksikal, dsb). Baker (1998: 77) menyatakan bahwa penggunaan gagasan equivalence digunakan para penerjemah untuk alasan kenyamanan dibandingkan dengan alasan mengikuti struktur yang ada.
2.1. Grammatical translation (penerjemahan gramatikal)
Perbedaan struktur gramatikal dari bahasa sumber dan bahasa sasaran sering terjadi dengan adanya perubahan penyampaian informasi atau isi pesan selama proses penerjemahan. Perubahan ini mungkin terjadi dengan cara menambahkan informasi yang tidak tertulis dalam bahasa sumber. Hal seperti ini sering terjadi karena bahasa sasaran memiliki kategori gramatikal yang mana bahasa sumber tidak miliki.
3.     Pergeseran
Untuk mencapai terjemahan gramatikal dalam bahasa sumber kedalam bahasa sasaran, pergeseran mungkin akan muncul di dalam proses penerjemahan tersebut. Pergeseran dalam penerjemahan dapat dibagi kedalam beberapa bagian (Catford: 1965)
3.1. Pergeseran level
Pergeseran level maksudnya adalah bahwa bahasa sumber memiliki level linguistik yang sama dalam bahasa sasaran namun dalam tataran level yang berbeda. Catford menjelaskan bahwa hal ini bisa terjadi karena adanya perbedaan level fonologi dan grafologi yang tidak memungkinkan. Penerjemahan antara level-level ini sebenarnya merupakan penerjemahan yang keluar dari aturan dimana penerjemahan ini mencari subtansi-subtansi yang sama dalam suatu kondisi tertentu. Kemudian melalui pergeseran gramatikal kedalam pergeseran leksikal atau sebaliknya sangat memungkinkan terjadinya pergeseran level. Contohnya
BSu: Dia sedang makan
BSa: She is eating
Dalam proses penerjemahan, ada pergeseran dari segi leksikal kedalam unsur gramatikal dimana kata sedang diterjemahkan secara gramatikal menjadi pola to be+Ving.
3.2. Pergeseran kategori
Catford menyatakan bahwa penerjemahan dengan menggunakan pergeseran kategori disebut sebagai penerjemahan yang tidak terikat. Dengan kata lain, pergeseran ini akan banyak memunculkan hasil terjemahan yang seperti penerjemahan bebas. Terkadang hasil terjemahannya tidak “normal” atau terlampau jauh struktunya dengan bahasa sumber. Pergeseran kategori memiliki beberapa sub-kategori. Diantaranya adalah:
3.2.1.     Pergeseran struktur
3.2.2.     Pergeseran kelas
3.2.3.     Pergeseran intra-sistem

C.HASIL PENELITIIAN DAN PEMBAHASAN
Seperti yang sudah dijelaskan di bab sebelumnya bahwa paper ini bertujuan untuk menemukan kesepadanan penerjemahan dari penerjemahan frasa nomina Bahasa Indonesia kedalam Bahasa Inggris. Analisis akan dimulai dengan menentukan konstituen dari frasa nomina dari bahasa sumber dan kemudian membandingkannya dengan konstituen-konstituen penyusun hasil penerjemahan dari Bahasa Indonesia tersebut.
Frasa nomina tersebut kemudian akan dianalisis dengan menggunakan teori linguistik tradisional untuk mengetahui konstituen penyusun frasa nomina dalam Bahasa Indonesia dan terjemahannya di dalam bahasa Inggris. Setelah mengetahui konstituen dari masing-masing frasa nomina, barulah bisa ditemukan kesepadanan penerjemahannya. Berdasarkan penerjemahan gramatikal tersebut, kemudian dianalisa pergesaran apa yang muncul dalam menerjemahkan frasa nomina dalam Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Inggris seperti yang terlihat pada novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata tersebut.
Data 1
BSu: Sebatang pohon filicium tua
BSa: An old filicium tree
Konstituen masing-masing frasa
Se
Batang
pohon
filicium
Frasa Nomina
numeralia
penggolong
nomina (pusat)
Nomina

An
old
filicium
Tree
NP: Noun Phrase
det: article
premod: adj
premod: adj
H: noun

Dari table data tersebut di atas dapat dilihat bahwa frasa nomina di dalam Bahasa Indonesia tetap diterjemahkan ke dalam frasa nomina dalam Bahasa Inggris untuk mendapatkan kesepadanan penerjemahan.  Dari data tersebut di atas pulalah kita bisa mengetahui bahwa penerjemahan mengalami proses hilangnya informasi dimana kata sebatang yang mempunyai konstituen numeralia+penggolong hanya ditejemahkan ke dalam determiner artikel a. Pergeseran juga terjadi di dalam proses terjemahan ini di mana frasa nomina bahasa Indonesia yang terdiri dari penggolong+numeralia+nomina (pusat)+nomina bergeser menjadi determiner+adjective+adjective+NP. Berdasarkan teori yang diusung oleh Catford, pergeseran seperti ini disebut sebagai pergeseran struktur . Pergeseran ini terjadi karena perbedaan sistem linguistik antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Data 2
BSu: Di mulut pintu berdiri dua orang guru seperti para penyambut tamu dalam perhelatan.(hal.1)
BSa: in the doorway stood two teachers like hosts welcoming guest to a party.  (hal.1)
Konstituen penyusunnya adalah
Dua
Orang
Guru
frasa nomina
numeralia
Penggolong
nomina(pusat)

Two
Teachers
NP
det:num
H:noun

Dari data tersebut di atas, frasa nomina dalam bahasa sumber juga diterjemahkan kedalam frasa nomina untuk mendapatkan kesepadanan penerjemahannya. Pergeseran juga terjadi di dalam proses penerjemahan frasa nomina tersebut. Terdapat dua macam pergeseran dalam proses penerjemahan frasa nomina tersebut. Pertama adalah pergeseran struktur. Dari data tersebut terlihat bahwa kata orang dalam frasa nomina tidak diterjemahkan. Pergeseran seperti ini disebut sebagai pergeseran struktur dimana terdapat perbedaan struktur linguistik antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Yang kedua adalah pergeseran intra sistem. Pergeseran ini bisa dilihat dari kata guru yang merupakan nomina tunggal diterjemahkan ke dalam kata teachers yang merupakan nomina jamak. Berdasarkan teori Catford, pergeseran intra sistem digunakan pada kasus di mana prosesnya terjadi secara internal, di dalam sebuah sistem. Pergeseran terjadi karena untuk menyatakan nomina dalam Bahasa Inggris, nomina jamak yang bisa dihitung harus ditambahi akhiran –s.
Data 3
BSu: bau hangus yang kucium tadi ternyata adalah bau sandal cunghai (hal.11)
BSa: that burned smell I noticed from car tires, the smell of his cunghai sandals, made from car tires (hal.11)
Konstituen penyusunnya adalah
Sandal
Cunghai
frasa nomina
nomina (pusat)
Kata sifat

cunghai
Sandals
Made
From
Car
Tires
NP
premod: Adj
H: noun
postmod: non-finite clause


P: Verb
comp: PP



h:PP
comp: NP




premod: adj
H: noun

Berdasarkan data tersebut di atas, frasa nomina dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan ke dalam frasa nomina di dalam terjemahan Bahasa Inggrisnya untuk mencapai kesepadanan penerjemahan. Frasa nomina dalam Bahasa Indonesia yang berbentuk frasa nomina sederhana diterjemahkan kedalam frasa nomina dengan penjelas belakang. Penerjemah menambahkan informasi tambahan untuk membuat kesepadanan penerjemahannya. Kata sandal cunghai mungkin tidak asing bagi masyarakat Indonesia, namun tidak demikian halnya dengan masyarakat di luar Indonesia. Oleh karena itu, penerjemah menambahkan informasi tambahan berupa frasa verba made from car tires agar pembaca bisa membayangkan atau membuat gambaran mengenai bentuk sandal cunghai tersebut. Di samping penambahan informasi, pergeseran juga terjadi dalam proses penerjemahan frasa nomina tersebut. Merujuk pada teori pergeseran dari Catford, pergeseran yang terjadi adalah pergeseran intra sistem dan pergeseran struktur. Sama halnya dengan data sebelumnya, pergeseran intra sistem terjadi karena proses internal. Sandal merupakan nomina yang biasanya berpasangan. Maka penerjemahan ke dalam bahasa inggrisnya harus menambahkan akhiran-s untuk menjamakkan nomina tersebut. Sedangkan pergeseran yang lain yang terjadi dalam menerjemahkan frasa nomina tersebut adalah pergeseran struktur dimana frasa sandal cunghai diterjemahkan menjadi cunghai sandals. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan struktur linguistik dari kedua bahasa tersebut


Data 4
Bsu: Seketika itu kami tersentak dalam pesona, itulah lagu Tennese Waltz yang sangat terkenal karya Anne Murray.(hal.137)
Bsa: The song was none other than the famous Tennese Waltz written by Anne Murray. (hal.118)
Konstituen penyusunnya
Lagu
Tennese Waltz
Yang
sangat
Terkenal
karya
Anne Murray
Frasa Nomina
FN
Penjelas belakang: frasa adjektiva
 nomina
(pusat)
nomina
 Peng.
adjektiva
adjektiva
nomina
nomina


the
famous
song
written
by
Anne Murray
Noun Phrase
det:art
premod:adj
h:noun
postmod:NFC



p: verb
comp:pp




pp:prep
comp:np

Berdasarkan data konstituen struktur sintaksis di atas, bisa diketahui bahwa frasa nomina  dalam Bahasa Indonesia tetap diterjemahkan ke dalam frasa nomina untuk mendapatkan kesepadanan penerjemahannya. Akan tetapi, konstituen penyusun frasa nomina dan terjemahan bahasa inggrisnya mengalami banyak perbedaan struktur.
D.KESIMPULAN
Berdasarkan analisis data yang telah dibuat diatas, bisa ditarik kesimpulan bahwa penerjemahan suatu bahasa ke dalam bahasa lain bisa tercapai melalui beberapa proses penerjemahan. Pada proses penerjemahan antara satu bahasa ke dalam bahasa lainnya, pergeseran sangat mungkin terjadi karena beberapa faktor. Diantaranya adalah faktor perbedaan struktur gramatikal antara kedua bahasa tersebut, faktor intern di dalam masing-masing bahasa, dan faktor susunan atau urutan kata yang berbeda dari kedua bahasa tersebut.
            Pada analisis data yang telah dibuat pada bab sebelumnya, penerjemahan frasa nomina dari Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Inggris mengalami beberapa macam bentuk pergeseran. Pergeseran tersebut adalah pergeseran struktural dan pergeseran intra sistem. Penambahan informasi juga terjadi untuk mendapatkan kesepadanan penerjemahan antara bahasa sumber dan bahasa sasaran. Penerjemahan yang baik harus bisa menyampaikan pesan yang dimaksud dalam bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Agar pesan yang dimaksud bisa sampai dengan baik, maka sangat mungkin struktur-struktur sintaksis pada bahasa sumber akan berubah dalam bahasa sasaran untuk mencapai kesepadanan penerjemahannya dan pesan yang dimaksud bisa sampai dengan benar sesuai dengan yang dimaksudkan di dalam bahasa sumber.
E.DAFTAR PUSTAKA
Baker, Mona. 1997. In Other Words: A Course book of
Translation. London: Routledge.

Catford, J.C. 1965. A Linguistic Theory of  Translation. London: Oxford           University Press.

Hirata, Andrea. 2004. Laskar Pelangi. Jakarta: Bentang Pustaka.

Hirata, Andrea. 2009. The Rainbow Troops. Translator: Angie Kilbane.
Jakarta: Bentang Pustaka.

Munday, Jeremy. 2004. Introducing Translation Studies:  
Theories and Application. London: Routledge

Nababan, M.R. 1999. Teori Menerjemahkan Bahasa Inggris.         Jogyakarta: Pustaka Pelajar.
Subroto, Edi. 1992. Pengantar Metode Penelitian Linguistik         Struktural. Surakarta: Sebelas Maret University Press.
Verspoor, Marjolijn and Kim S. 2000. English Sentence   Analysis. America: John Benjamins North America.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar