Selasa, 19 Juni 2012

LINGUISTIC ANALYSIS


ANALISIS STRUKTUR FRASA NOMINA DALAM NOVEL LASKAR PELANGI DAN PENERJEMAHAN BAHASA INGGRISNYA THE RAINBOW TROOPS
Sebuah Kajian Linguistik
Oleh: Winda Ratna Wulandari

Abstract 
Noun phrase is a group of words headed by a noun. In the case of translating a noun phrase from Bahasa Indonesia into English, a translator often finds some difficulties in deciding the structure of noun phrase in the target language because of the different structure of both Bahasa Indonesia and English. This paper is intended to describe the translation of noun phrases from Bahasa Indonesia into English as seen in Andrea Hirata’s Laskar Pelangi and its English version. The method used in this research is the method of translational equality because this analysis concerns two different languages. The result of the study shows that in the translation process of noun phrases from Bahasa Indonesia into English, shifting occurs to gain the equivalent between Bahasa Indonesia and English. It happens because of the different syntactic structure of both Bahasa Indonesia and English.
Abstrak
Frasa nomina adalah sekelompok frasa yang dikepalai oleh sebuah nomina. Pada kasus penerjemahan frasa nomina dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa inggris, penerjemah biasanya mengalami sedikit kesulitan di dalam menentukan struktur frasa nomina dalam bahasa sasaran dikarenakan perbedaan struktur di antara kedua bahasa tersebut. Paper ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerjemahan frasa nomina dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa inggris seperti terlihat pada novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata dan versi bahasa Inggrisnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode padan translasional karena analisisnya difokuskan pada dua bahasa yang berbeda. Hasil studi menunjukkan bahwa pada proses penerjemahan frasa nomina dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa inggris banyak mengalami proses pergeseran untuk mendapatkan kesepadanan struktur antara bahasa sumber dan bahasa sasaran. Hal ini terjadi dikarenakan perbedaan struktur sintaksis antara bahasa Indonesia dan bahasa inggris.
Kata kunci: frasa nomina; penerjemahan; struktur sintaksis
A.PENDAHULUAN
Setiap bahasa di dunia memiliki pola struktur sintaksis yang berbeda-beda. Ketika satu bahasa di kaji unsur-unsur penyusunnya, maka kajiannya akan menjadi kajian linguistik sinkronis maupun diakronis. Akan tetapi, kajian linguistik mungin akan menjadi lebih menarik jika dikaji melalui dua medium bahasa yang berbeda karena dapat dipastikan unsur-unsur linguistik di dalamnya, terutama unsur-unsur sintaksisnya kemungkinan besar akan berbeda. Pengkajian linguistik melalui dua media bahasa yang berbeda dapat dihasilkan melalui proses yang disebut sebagai penerjemahan.
Penerjemahan suatu bahasa kedalam bahasa lain merupakan proses yang cukup rumit. Penerjemah harus bisa menyampaikan pesan yang ada dalam bahasa sumber kedalam bahasa sasaran dengan baik dan benar agar pesan yang dimaksudkan dalam bahasa sumber menjadi sama jelasnya di dalam bahasa sasaran. Di dalam paper ini, penulis memfokuskan diri untuk mengkaji penerjemahan dari bahasa Indonesia kedalam bahasa Inggris. Objek kajian yang penulis temukan adalah novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris The Rainbow Troops oleh Angie Kilbane.
Permasalahan yang cukup rumit dalam hal proses penerjemahan adalah penerjemahan frasa nomina. Baik bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris mempunyai pola struktur sintaksis yang berbeda. Perhatikan contoh di bawah ini
            BSU: Sebatang pohon filicium tua yang rindang.
            BSA: The branch of an old filicium tree.
Dari contoh tersebut di atas dapat diketahui bahwa di dalam bahasa sasaran, frasa nomina tersebut mendapatkan tambahan artikel the dan a. Selain itu, kata rindang yang ada dalam bahasa sumber tidak ikut diterjemahkan kedalam bahasa sasaran. Perbedaan struktur sintaksis inilah yang bisa dikaji secara linguistik.
Seorang penerjemah yang baik diharapkan bisa menemukan padanan yang sesuai baik padanan kata maupun gramatikal di dalam bahasa sasaran. Baker (2000: 8) menyatakan bahwa seorang penerjemah diharapkan memahami struktur sintaksis dari bahasa sumber dan bahasa sasaran secara total meliputi perbedan gramatikal, makna leksikal, dan semua sistem yang ada di kedua bahasa tersebut sehingga tercapailah kesamaan tekstual dan pragmatik.
Dari uraian tersebut di atas cukup jelas bahwa frasa nomina dalam bahasa sumber kemungkinan akan mempunyai struktur sintaksis yang berbeda dalam bahasa sasaran. Mencari kesepadanan dalam bahasa sumber dan bahasa sasaran merupakan hal yang penting dalam proses penerjemahan. Oleh karena itu, paper ini mencoba menguraikan kesepadanan penerjemahan antara frasa nomina dalam bahasa Indonesia seperti yang terlihat di dalam novel Laskar Pelangi dan terjemahannya The Rainbow Troops melalui unsur-unsur sintaksis penyusun frasa nomina dalam Bahasa Indonesia dan terjemahannnya di dalam Bahasa Inggris tersebut.
Berdasarkan uraian yang telah disebutkan di atas, maka permasalahan yang timbul adalah (1)Bagaimana frasa nomina di dalam novel Laskar Pelangi diterjemahkan, dan (2) Bagaimana penerjemahan frasa nomina dalam Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Inggris mencapai kesepadanan penerjemahan. Karena penelitian ini berkaitan dengan dua bahasa yang memiliki aksara berbeda, maka metode yang tepat digunakan dalam penelitian ini adalah metode padan translasional, yakni metode padan yang alat penentunya adalah bahasa lain (Edi Subroto, 1992: 59). Data akan dianalisis dengan menggunakan teori linguistik tradisional mengenai struktur sintaksis frasa nomina dan untuk mengetahui kesepadanan struktur penerjemahan dalam Bahasa Inggrisnya, teori penerjemahan tentang pergeseran (shifting) yang diusung oleh Catford juga digunakan untuk melihat pergeseran apa yang timbul dalam proses penerjemahan frasa nomina-frasa nomina tersebut.
B.LANDASAN TEORI
Paper ini mengkaji tentang struktur sintaksis dari frasa nomina dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Oleh karena itu teori linguistik yang digunakan adalah teori linguistik tradisional. Teori linguistik tradisional sendiri adalah teori yang menjelaskan tentang aturan gramatikal yang dipakai kurang lebih selama dua ratus tahun yang lalu. Tata bahasa tradisional merupakan penggolongan kata ke dalam kelas kata. Salah satu tokoh yang terkenal mengembangkan teori linguistik tradisional adalah Robert Lowth’s (1726) dalam bukunya A Short Introduction to English Grammar.
Paper ini lebih lanjut akan membahas mengenai struktur frasa nomina dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris menggunakan teori sintaksis dari linguistik tradisional. Teori sintaksis dibuat untuk membedakan level analisis pada kalimat, klausa, dan frasa. Sintaksis juga mengkaji tentang terminologi tradisional dalam struktur sintaksis seperti subjek, objek, and kelas kata. Teori sintaksis yang dipakai dalam paper ini adalah teori tentang frasa nomina dari Marjilijn and Kim Sauter dalam bukunya yang berjudul English Sentence Analysis.
Selain  menggunakan teori sintaksis, paper ini juga mengkaji frasa nomina dalam Bahasa Indonesia dan terjemahan Bahasa Inggrisnya dengan menggunakan teori equivalence. Karena paper ini mengkaji proses penerjemahan dari suatu frasa nomina kedalam struktur terjemahan Bahasa Inggrisnya, maka sangatlah penting untuk mengetahui kesepadanan struktur sintaksis pada frasa nomina dalam Bahasa Indonesia dan terjemahan Bahasa Inggrisnya. Mengkaji struktur sintaksis untuk mencari kesepadanan penerjemahan sangat memungkinkan adanya proses pergeseran dari bahasa sumber kedalam bahasa sasaran. Oleh karena itu, dalam paper ini penulis juga akan mencoba untuk mengkaji pergeseran-pergeseran apa yang terjadi selama proses penerjemahan dengan menggunakan teori dari Catford.



1.     FRASA NOMINA
1.1. FRASA
Sebuah frasa merupakan sekumpulan kata-kata yang tidak memiliki subjek yang artinya bahwa setiap sekumpulan kata yang secara gramatikal sama dan tidak memiliki subjeknya sendiri disebut sebagai frasa. Salah satu frasa adalah frasa nomina. Contohnya adalah frasa seorang anak muda. Frasa ini adalah frasa nomina karena dikepalai oleh sebuah kata benda.
1.2. Frasa Nomina
Frasa nomina bisa berfungsi sebagai subjek dalamsebuah kalimat , misalnya dalam kalimat seorang anak membaca sebuah buku, sebagai objek seorang anak membaca sebuah buku, sebagai pelengkap objek kata kerja John membeli sepotong kue, dan sebagai objek preposisi Jill sedang berenang di kolam renang.
2.     Equivalence (Kesepadanan)
Vinay dan Darbelnet (dikutip dari Munday, 2001: 58) menyatakan bahwa equivalence merujuk pada kasus dimana bahasa mendeskripsikan situasi yang sama dengan perbedaan style atau perbedaan struktural. Catford (dikutip dari Hatim dan Munday, 2004: 40) manyatakan bahwa menuliskan suatu teks kedalam bahasa lain bisa sama melalui beberapa element yang berbeda (seluruhnya atau hanya sebagian sama), dalam tataran level yang berbeda (persamaan konteks, semantic, gramatikal, leksikal, dsb). Baker (1998: 77) menyatakan bahwa penggunaan gagasan equivalence digunakan para penerjemah untuk alasan kenyamanan dibandingkan dengan alasan mengikuti struktur yang ada.
2.1. Grammatical translation (penerjemahan gramatikal)
Perbedaan struktur gramatikal dari bahasa sumber dan bahasa sasaran sering terjadi dengan adanya perubahan penyampaian informasi atau isi pesan selama proses penerjemahan. Perubahan ini mungkin terjadi dengan cara menambahkan informasi yang tidak tertulis dalam bahasa sumber. Hal seperti ini sering terjadi karena bahasa sasaran memiliki kategori gramatikal yang mana bahasa sumber tidak miliki.
3.     Pergeseran
Untuk mencapai terjemahan gramatikal dalam bahasa sumber kedalam bahasa sasaran, pergeseran mungkin akan muncul di dalam proses penerjemahan tersebut. Pergeseran dalam penerjemahan dapat dibagi kedalam beberapa bagian (Catford: 1965)
3.1. Pergeseran level
Pergeseran level maksudnya adalah bahwa bahasa sumber memiliki level linguistik yang sama dalam bahasa sasaran namun dalam tataran level yang berbeda. Catford menjelaskan bahwa hal ini bisa terjadi karena adanya perbedaan level fonologi dan grafologi yang tidak memungkinkan. Penerjemahan antara level-level ini sebenarnya merupakan penerjemahan yang keluar dari aturan dimana penerjemahan ini mencari subtansi-subtansi yang sama dalam suatu kondisi tertentu. Kemudian melalui pergeseran gramatikal kedalam pergeseran leksikal atau sebaliknya sangat memungkinkan terjadinya pergeseran level. Contohnya
BSu: Dia sedang makan
BSa: She is eating
Dalam proses penerjemahan, ada pergeseran dari segi leksikal kedalam unsur gramatikal dimana kata sedang diterjemahkan secara gramatikal menjadi pola to be+Ving.
3.2. Pergeseran kategori
Catford menyatakan bahwa penerjemahan dengan menggunakan pergeseran kategori disebut sebagai penerjemahan yang tidak terikat. Dengan kata lain, pergeseran ini akan banyak memunculkan hasil terjemahan yang seperti penerjemahan bebas. Terkadang hasil terjemahannya tidak “normal” atau terlampau jauh struktunya dengan bahasa sumber. Pergeseran kategori memiliki beberapa sub-kategori. Diantaranya adalah:
3.2.1.     Pergeseran struktur
3.2.2.     Pergeseran kelas
3.2.3.     Pergeseran intra-sistem

C.HASIL PENELITIIAN DAN PEMBAHASAN
Seperti yang sudah dijelaskan di bab sebelumnya bahwa paper ini bertujuan untuk menemukan kesepadanan penerjemahan dari penerjemahan frasa nomina Bahasa Indonesia kedalam Bahasa Inggris. Analisis akan dimulai dengan menentukan konstituen dari frasa nomina dari bahasa sumber dan kemudian membandingkannya dengan konstituen-konstituen penyusun hasil penerjemahan dari Bahasa Indonesia tersebut.
Frasa nomina tersebut kemudian akan dianalisis dengan menggunakan teori linguistik tradisional untuk mengetahui konstituen penyusun frasa nomina dalam Bahasa Indonesia dan terjemahannya di dalam bahasa Inggris. Setelah mengetahui konstituen dari masing-masing frasa nomina, barulah bisa ditemukan kesepadanan penerjemahannya. Berdasarkan penerjemahan gramatikal tersebut, kemudian dianalisa pergesaran apa yang muncul dalam menerjemahkan frasa nomina dalam Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Inggris seperti yang terlihat pada novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata tersebut.
Data 1
BSu: Sebatang pohon filicium tua
BSa: An old filicium tree
Konstituen masing-masing frasa
Se
Batang
pohon
filicium
Frasa Nomina
numeralia
penggolong
nomina (pusat)
Nomina

An
old
filicium
Tree
NP: Noun Phrase
det: article
premod: adj
premod: adj
H: noun

Dari table data tersebut di atas dapat dilihat bahwa frasa nomina di dalam Bahasa Indonesia tetap diterjemahkan ke dalam frasa nomina dalam Bahasa Inggris untuk mendapatkan kesepadanan penerjemahan.  Dari data tersebut di atas pulalah kita bisa mengetahui bahwa penerjemahan mengalami proses hilangnya informasi dimana kata sebatang yang mempunyai konstituen numeralia+penggolong hanya ditejemahkan ke dalam determiner artikel a. Pergeseran juga terjadi di dalam proses terjemahan ini di mana frasa nomina bahasa Indonesia yang terdiri dari penggolong+numeralia+nomina (pusat)+nomina bergeser menjadi determiner+adjective+adjective+NP. Berdasarkan teori yang diusung oleh Catford, pergeseran seperti ini disebut sebagai pergeseran struktur . Pergeseran ini terjadi karena perbedaan sistem linguistik antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Data 2
BSu: Di mulut pintu berdiri dua orang guru seperti para penyambut tamu dalam perhelatan.(hal.1)
BSa: in the doorway stood two teachers like hosts welcoming guest to a party.  (hal.1)
Konstituen penyusunnya adalah
Dua
Orang
Guru
frasa nomina
numeralia
Penggolong
nomina(pusat)

Two
Teachers
NP
det:num
H:noun

Dari data tersebut di atas, frasa nomina dalam bahasa sumber juga diterjemahkan kedalam frasa nomina untuk mendapatkan kesepadanan penerjemahannya. Pergeseran juga terjadi di dalam proses penerjemahan frasa nomina tersebut. Terdapat dua macam pergeseran dalam proses penerjemahan frasa nomina tersebut. Pertama adalah pergeseran struktur. Dari data tersebut terlihat bahwa kata orang dalam frasa nomina tidak diterjemahkan. Pergeseran seperti ini disebut sebagai pergeseran struktur dimana terdapat perbedaan struktur linguistik antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Yang kedua adalah pergeseran intra sistem. Pergeseran ini bisa dilihat dari kata guru yang merupakan nomina tunggal diterjemahkan ke dalam kata teachers yang merupakan nomina jamak. Berdasarkan teori Catford, pergeseran intra sistem digunakan pada kasus di mana prosesnya terjadi secara internal, di dalam sebuah sistem. Pergeseran terjadi karena untuk menyatakan nomina dalam Bahasa Inggris, nomina jamak yang bisa dihitung harus ditambahi akhiran –s.
Data 3
BSu: bau hangus yang kucium tadi ternyata adalah bau sandal cunghai (hal.11)
BSa: that burned smell I noticed from car tires, the smell of his cunghai sandals, made from car tires (hal.11)
Konstituen penyusunnya adalah
Sandal
Cunghai
frasa nomina
nomina (pusat)
Kata sifat

cunghai
Sandals
Made
From
Car
Tires
NP
premod: Adj
H: noun
postmod: non-finite clause


P: Verb
comp: PP



h:PP
comp: NP




premod: adj
H: noun

Berdasarkan data tersebut di atas, frasa nomina dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan ke dalam frasa nomina di dalam terjemahan Bahasa Inggrisnya untuk mencapai kesepadanan penerjemahan. Frasa nomina dalam Bahasa Indonesia yang berbentuk frasa nomina sederhana diterjemahkan kedalam frasa nomina dengan penjelas belakang. Penerjemah menambahkan informasi tambahan untuk membuat kesepadanan penerjemahannya. Kata sandal cunghai mungkin tidak asing bagi masyarakat Indonesia, namun tidak demikian halnya dengan masyarakat di luar Indonesia. Oleh karena itu, penerjemah menambahkan informasi tambahan berupa frasa verba made from car tires agar pembaca bisa membayangkan atau membuat gambaran mengenai bentuk sandal cunghai tersebut. Di samping penambahan informasi, pergeseran juga terjadi dalam proses penerjemahan frasa nomina tersebut. Merujuk pada teori pergeseran dari Catford, pergeseran yang terjadi adalah pergeseran intra sistem dan pergeseran struktur. Sama halnya dengan data sebelumnya, pergeseran intra sistem terjadi karena proses internal. Sandal merupakan nomina yang biasanya berpasangan. Maka penerjemahan ke dalam bahasa inggrisnya harus menambahkan akhiran-s untuk menjamakkan nomina tersebut. Sedangkan pergeseran yang lain yang terjadi dalam menerjemahkan frasa nomina tersebut adalah pergeseran struktur dimana frasa sandal cunghai diterjemahkan menjadi cunghai sandals. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan struktur linguistik dari kedua bahasa tersebut


Data 4
Bsu: Seketika itu kami tersentak dalam pesona, itulah lagu Tennese Waltz yang sangat terkenal karya Anne Murray.(hal.137)
Bsa: The song was none other than the famous Tennese Waltz written by Anne Murray. (hal.118)
Konstituen penyusunnya
Lagu
Tennese Waltz
Yang
sangat
Terkenal
karya
Anne Murray
Frasa Nomina
FN
Penjelas belakang: frasa adjektiva
 nomina
(pusat)
nomina
 Peng.
adjektiva
adjektiva
nomina
nomina


the
famous
song
written
by
Anne Murray
Noun Phrase
det:art
premod:adj
h:noun
postmod:NFC



p: verb
comp:pp




pp:prep
comp:np

Berdasarkan data konstituen struktur sintaksis di atas, bisa diketahui bahwa frasa nomina  dalam Bahasa Indonesia tetap diterjemahkan ke dalam frasa nomina untuk mendapatkan kesepadanan penerjemahannya. Akan tetapi, konstituen penyusun frasa nomina dan terjemahan bahasa inggrisnya mengalami banyak perbedaan struktur.
D.KESIMPULAN
Berdasarkan analisis data yang telah dibuat diatas, bisa ditarik kesimpulan bahwa penerjemahan suatu bahasa ke dalam bahasa lain bisa tercapai melalui beberapa proses penerjemahan. Pada proses penerjemahan antara satu bahasa ke dalam bahasa lainnya, pergeseran sangat mungkin terjadi karena beberapa faktor. Diantaranya adalah faktor perbedaan struktur gramatikal antara kedua bahasa tersebut, faktor intern di dalam masing-masing bahasa, dan faktor susunan atau urutan kata yang berbeda dari kedua bahasa tersebut.
            Pada analisis data yang telah dibuat pada bab sebelumnya, penerjemahan frasa nomina dari Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Inggris mengalami beberapa macam bentuk pergeseran. Pergeseran tersebut adalah pergeseran struktural dan pergeseran intra sistem. Penambahan informasi juga terjadi untuk mendapatkan kesepadanan penerjemahan antara bahasa sumber dan bahasa sasaran. Penerjemahan yang baik harus bisa menyampaikan pesan yang dimaksud dalam bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Agar pesan yang dimaksud bisa sampai dengan baik, maka sangat mungkin struktur-struktur sintaksis pada bahasa sumber akan berubah dalam bahasa sasaran untuk mencapai kesepadanan penerjemahannya dan pesan yang dimaksud bisa sampai dengan benar sesuai dengan yang dimaksudkan di dalam bahasa sumber.
E.DAFTAR PUSTAKA
Baker, Mona. 1997. In Other Words: A Course book of
Translation. London: Routledge.

Catford, J.C. 1965. A Linguistic Theory of  Translation. London: Oxford           University Press.

Hirata, Andrea. 2004. Laskar Pelangi. Jakarta: Bentang Pustaka.

Hirata, Andrea. 2009. The Rainbow Troops. Translator: Angie Kilbane.
Jakarta: Bentang Pustaka.

Munday, Jeremy. 2004. Introducing Translation Studies:  
Theories and Application. London: Routledge

Nababan, M.R. 1999. Teori Menerjemahkan Bahasa Inggris.         Jogyakarta: Pustaka Pelajar.
Subroto, Edi. 1992. Pengantar Metode Penelitian Linguistik         Struktural. Surakarta: Sebelas Maret University Press.
Verspoor, Marjolijn and Kim S. 2000. English Sentence   Analysis. America: John Benjamins North America.

CODE SWITCHING ANALYSIS

CODE SWITCHING ANALYSIS IN CINTA LAURA INTERVIEW WITH VOA

CHAPTER I
INTRODUCTION
A.    BACKGROUND OF STUDY
Language is a tool used in communication to make interaction with others. As a tool in the communication and interactions with others which is only had by human beings, language can be observed internally and externally. Internally, the language is studied based on the intern elements, such as phonology, morphology, and syntax while externally; the language is observed based on the factors outside the language itself, such as the connection with the society as the user of the language itself. Moreover, the study of external language also observes the use of several languages in one occasion in certain society.
Chaer ( 1995:112) said that someone mastering more than one language can be said as bilingual while the ability to use more than one language is called as bilingualism. As individual involved in two different languages and cultures, a bilingual cannot be separated from the effects of using two languages. One of the effects is the overlapping usage between two different language systems used from one language elements into other language elements. The mixing of those elements said as code switching.
In this globalization era, the cultures are dissolved in one society. Code switching commonly appears in the daily conversation or even in discourse, such as short stories, articles, novels, etc. The writer also finds a case of code switching appearing in one interview. This happened when a reporter from VOA interviewed an actress from Indonesia named Cinta Laura Kiehl. In the interview, Cinta Laura and the interviewer spoke Bahasa Indonesia and English at the same time. The writer then fells interested to study on that case because that thing is interesting to be studied sociolinguistically.
B.     PROBLEM STATEMENTS
1.      What factors do cause the use of code switching by Cinta Laura in the interview with VOA?
2.      What are the purposes of switching the codes?

C.     OBJECTIVES
1.      To find out what factors cause the use of code switching by Cinta Laura in the interview with VOA.
2.      To analyze the purposes of switching the code.
D.     SIGNIFICANCE OF STUDY
This study may be able to be used as an additional source by those who want deeper their knowledge in sociolinguistics, especially code switching because this study provides the real usage of code switching in the society and how sociolinguistic analyzes this kind of phenomenon.
E.     METHOD OF STUDY
This research uses a descriptive qualitative method. Generally, qualitative method is the method used to analyze the problems which are not designed or arranged using statistic procedure ( Subroto 2007: 5). It means that all the data in this research are in the form of sentences and words, not in the form of numbers. As Wilkinson (2000: 7) stated that the resulting data is presented in the form of descriptions so, the data in this research is in the form of descriptions. According to Wilkinson (2000: 79), qualitative data is usually analyzed by subjecting it to some form of coding process.









CHAPTER II
THEORETICAL APPROACH
1.      CODE
The terminology of code is used to call one variant in language hierarchy, so beside the code which refers to the language (like English language, Japanese, Indonesian), the language also refers to the variety of language, like regional variant ( Bahasa Jawa dialek Banyumas, Jogja-Solo, Surabaya, Banten, etc). Moreover, the language also includes the variant of social level called as social dialect and sociolect (Bahasa Jawa halus dan kasar), and the variant of the usage or register (speech language, praying language, and comedian language). The fact is the language hierarchy starts from the language, and then the variety of language, dialect, style, and register.
2.      CODE SWITCHING
In case of bilingualism, speaker sometimes replaces the elements of language or speech level. This depends on the context and the language situation. For example, when speaker uses X language with Person A, Person B who does not speak that language comes into the situation, then she/he switches to use a language understood by the B. This kind of incident is called as code switching.
According to Apple (1976:79), code switching is an effect of switching the codes because of the change of situation. Hymes (1875: 103) stated that code switching happens in two languages or more.
Nababan (1991: 31) states that the concept of code switching also includes the event and the time someone switches from one variety of a language, such as formal language into informal language or from one dialect into another dialect, or from the high language into low language, for example kromo inggil (Javanesse language) into ngoko language, and so forth.
Kridalaksana (1982: 7) asserts that the use of other variety of language which is used to adjust the role or the other situation, or because of the participations involving in the situation is called as code switching.
From different points of view mentioned above, code switching can be divided into four parts, namely:
a. Type of code switching: language switching, the variety of language switching, and the level of speech.
b. The level of the code switching: the level of phonology, the phoneme level, the level of words or phrases;
c. The nature of the code switching: temporary code switching, or permanent code switching.
d. The factors of the code switching: personality of the speaker, relationship between the speaker’s partner and the speaker him/herself, and the topic or subtopic.

Suwito in Nababan (1986) divides code switching into two parts:
1.      Extern code switching
It happens when the speaker change a language into another language in a conversation, for example from Bahasa Indonesia into English.
2.      Intern code switching
It happens when the speaker uses the variety of language, for example: from Javanese ngoko into Javanese kromo.
Hymes (1964) states some factors in an interaction that may affect the determination of the speech meaning, they are:

   1. Who and how is the speaker’s personality?
   2. Where or when does the conversation take place?
   3. What modus is used?
   4. What is the topic or subtopic in the conversation?
   5. What is the function and purpose of the conversation?
   6. What variety of language and speech levels are used?
                           



CHAPTER III
DATA ANALYSIS

As stated in the previous chapter, code switching can happen in two different languages or more, or even in variety of languages. In this study, the writer takes the data from Cinta Laura’s interview with a reporter from VOA on 23 November 2011. During the interview, Cinta Laura and the reporter switched the codes from Bahasa Indonesia into English and vice versa.

Language Data
Narrator: Berakting sudah biasa, bernyanyi juga sudah biasa. Masuk salah satu universitas ternama di Amerika itu baru luar biasa. (1)
Interviewer: hai pemirsa VOA sekarang saya berada bersama dengan salah satu idola Indonesia yang sangat terkenal pastinya dan sekarang lagi hijrah ke Amerika untuk sekolah, dan sekolahnya gak tanggung-tanggung lhoh….di Colombia University. The one and only Cinta Laura. Hei, what’s up girl? (2)
Cinta Laura: hai I’m fine thank you, how are you? hei semua apa kabar (baca khabar)? (3)
Interviewer: so, how is the state riding you?(4)
Cinta Laura: I love it. I love New York City and I am…(5)
Interviewer: of course Colombia University you know…(6)
Cinta Laura: ya…but the weather is really cold.(7)
Narrator: cinta memberikan alasan kenapa ia memilih Colombia University.(8)
Cinta laura: Colombia itu sekolah paling selektif di dunia habis Harvard. Harvard accepting ratenya 6.2%, kalo Colombia 6.4%. Kalo sekolah-sekolah bagus yang lain-lain kayak princestone, or Stanford itu semua accepting ratenya 8.9%, jadi lebih susah masuk Colombia daripada sekolah-sekolah yang tadi aku mention.(9)
Narrator: bisa masuk ke universitas top pastinya susah ya, gimana caranya sih Cin?(10)
Cinta Laura: gak Cuma liat grades kita di sekolah doang, tapi ada essay untuk tunjukin personality kita. Kita harus well balanced, misalnya we have some unique ability. Kalo aq di application aq tulis athlete di sekolah, coz I was in basketball and tracking field team and then aku juga acting and singing terus aku juga banyak social works, karena has a foundation yayasan sekar sena peduli dan itu aimnya untuk ride or improve education di Indonesia.(11)
Narrator: hidup merantau di negri orang pasti gak gampang apalagi jauh dari orang tua.(12)
Cinta Laura: aku harus cuci sendiri, jadi aku harus belajar kalo masukin ke dalam washing machine warna apa boleh bareng-bareng.(13)
Narrator: bener-bener sudah siap dong melebarkan sayap di negeri paman Sam?(14)
Cinta Laura: planningnya January ini mau recording di New York, dua single dan salah satu singlenya mugkin bareng penyanyi international, umm…tapi recently aku juga baru audition buat salah satu film Hollywood.(15)
Narrator: do you miss Indonesia?(16)
Cinta Laura: I miss Indonesian gurame, I miss ayam bakar, I miss ketoprak, and I miss cabe rawit. I miss that a lot. Hey everyone in Indonesia, I miss you so much. Kerena aku lagi di new York, and that’s cold, so you guys are lucky karena di sana anget. I’ll be back summer depan, dan karena aku gak di situ sekarang, I’d like to say then untuk yang celebrate Christmas, merry Christmas dan buat semua orang happy new year bentar lagi, two more months and yah, I’ll try the best to keep you guys updated what we run around here. Pokoknya GBU all….(17)
Interviewer: nah itu dia pemirsa bincang-bincang kita dengan Cinta Laura. Ada ojek di sini? Masih inget dengan kata-katanya?(18)
Cinta Laura: ya, but that’s not cool.(19)
Interviewer: oke deh cinta, thanks banget ya (20)
Cinta Laura: thank you so much, thank you(21)
Interviewer: dan pemirsa kita akan kembali lagi dengan liputan-liputan yang menarik berikutnya. Bye-bye.(22)
Data analysis
A.   Type of Code Switching
According to the data above, code switching appearing in that conversation is extern code switching. Suwito (1985) stated that extern code switching is switching the codes from one language into another language. The data above shows how the interviewer and the informant switch the codes from Bahasa Indonesia into English and vice versa.
B.   Factors influencing Code switching
Based on the theory stated by Hymes, code switching can happen because of some factors.
1.      Who and how is the speaker’s personality?
The informant, Cinta Laura is known as descendant actress. Her father is from Germany, and her mother is from Indonesia. The biography of Cinta Laura can be seen below.
Cinta Laura Kiehl is a German-Indonesian actress, singer and model in Indonesia. Beginning her career in 2007; she has starred in several TV series, movies and endorsed several local and international brands. Since the start of her career, she has won several awards for acting and singing, two of which are from the Nickelodeon Kids Choice Awards Indonesia. Her first album received a record breaking 13 times platinum from sales in Indonesia, Malaysia and Brunei. While her career continues to blossom, Kiehl also graduated from the Jakarta International School with honors and is attending Columbia University New York for her undergraduate studies. Aside from her professional and academic life, Kiehl also holds a charity foundation called the Soekarseno Peduli, aimed at rebuilding dilapidated schools in Bogor, Indonesia. The foundation has cooperated with several multinational companies and NGO's, aiding more than 4000 children since 2003. Recently, she has been cast in a Hollywood movie called "The Philosophers", making her debut appearance in an international movie.

From Cinta Laura’s personality above, it can be known that she uses two languages to communicate. She uses English because she goes to school in which the language is spoken. She also firstly lived with her parents in another country and she may use English in her daily conversation. After she started her carrier in Indonesia, she learnt Bahasa Indonesia in order to be able to communicate easier with people in Indonesia.
The interviewer, who automatically knows that Cinta Laura is not good enough in speaking Bahasa Indonesia, decides to switch the codes to make the interview run smoothly.
                                                        
2.       Where or when does the conversation take place?
The conversation takes place in U.S where Cinta Laura is studying. VOA standing for Voice of America for Indonesia is a program which is held to give some information of what is happening in America and then share it to the people in Indonesia. Because Cinta Laura was in America at that time, VOA then interviewed her in order to get the information from her. From the place where the interview was running, it gives a reason of why the informant and the interviewer switch the codes externally. Besides the personality of the informant, the place of the conversation held also influences the use of code switching.
3.      What modus is used?
The modus used in this data is face to face orally.
4.      What is the topic or subtopic in the conversation?
The topic of the conversation is asking more information from the informant
The subtopic of the conversation is the information given by the informant
5.      What is the function and purpose of the conversation?
Sentence 1: opening the program (VOA)
Sentence 2: opening the interview and asking the condition of the informant
Sentence 3: answering the question about her condition
Sentence 4: asking the opinion of New York
Sentence 5, 7: giving opinion about New York
Sentence 8: asking the reason of why Cinta Laura Chose Colombia
Sentence 9: giving the reason of why she chose Colombia
Sentence 10: asking how Cinta Laura could enter Colombia
Sentence 11: giving information of how she could enter Colombia
Sentence 12: asking how she could live without her parents
Sentence 13: giving information of what she does without her parents
Sentence 14: asking the plan in America
Sentence 15: giving information about her plans in America
Sentence 16: asking what Cinta Laura misses from Indonesia
Sentence 17: giving information of what she misses from Indonesia and saying hello to people in Indonesia
Sentence 18: giving gratitude expression and closing the interview
Sentence 19: showing familiarity attidude
6.      What variety of language and speech levels are used?
The interviewer firstly speaks in Bahasa Indonesia then she switches into English. They both use informal variety of language because the condition is casual.
C.   Code Switching Categories
From data analysis above, code switching appears most of time as seen in sentence 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 11, 3, 15, 16, 17, 19, 21. It can be seen from some points of view
1.      The type of code switching is external code switching.
2.      The level of code switching is in phoneme, word, phrase and clause level.
Phoneme level: sentence 3
Word level: sentence 11 and sentence 15
Phrase level: sentence 2, 8, 9, 11, 13, 17
Clause level: sentence 3, 4, 5, 6, 7, 16, 17, 19, 21
3.      The nature of code switching is temporary code switching
4.      The factors of conducting code switching
The interviewer: to build familiarity between the informant and the interviewer
The informant: personality of the informant herself. She may feel more comfortable to use English because of her personality, but she also can speak Bahasa Indonesia.  Finally she decides to switch the codes to adjust the condition. Switching the codes is also important to the informant because when she feels comfortable in using the languages, the information needed by the interviewer can be clear and complete.

CHAPTER IV
CONCLUSION

From the analysis made in the previous chapter, it can be drawn that code switching can happen because of some factors. The data shows how the personality of the speaker influences code switching a lot. Code switching appears in every element of language. The sentences in the conversation show how code switching appears in phoneme, word, phrase, and clause level.
The main purpose of switching the codes in the data studied is to build familiarity between the informant and the interviewer. The data shows how the informant feels comfortable in using both Bahasa Indonesia and English. Switching the codes also affects the conversation itself in which the conversation runs smoothly and the information needed can be given clearly.


















REFERENCES
Apple, R. 1976. Sociolinguistics. Utrecht.
Chaer, Abdul & Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik Suatu Pengantar.Jakarta: Rineka Cipta.
Hymes, D. 1964. Toward Ethnographies of Communicative Events.  Philadelphia: University of    Pennsylvania Press.
Kridalaksana, Kristen. 1986. The Linguistics Encyclopedia. London: Routledge.

Nababan, P.W.J. 1986. Sosiolinguistik: Suatu Pengantar . Jakarta: PT. Gramedia.
Subroto, Edi. 1992. Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural. Surakarta: Sebelas
Maret University Press.
Wardhaugh, R. 1986. An Introduction to Socilinguistics. New York: Basil Blackwell.